Rahmawati


?????????????
Rahmawati nama pemberian kedua orangtuaku, mereka memanggilku dengan Rahma. Kami tinggal di Lembah Seulawah Aceh Besar sejak aku lahir pada tanggal  pada tanggal 7 Oktober 2005. Kata mamak aku sudah sakit-sakitan sejak bayi, demam yang tinggi dan tubuhku kuning.
Mamak membawaku ke puskesmas dan aku divonis gizi buruk karena badanku yang kurus kering. Aku dikasih banyak makanan bergizi seperti kacang ijo, roti dan susu. Semua disuruh habisin dan aku kecil hanya bisa menangis aja. Semua makanan yang diberikan oleh puskesmas aku habisin tapi keadaanku gak berubah, badanku tetap kuning, demam yang berulang dan aku tetap kurus kering.

Dibawa ke RS

Akhirnya saat usiaku 2 tahun, ayah dan mamak membawaku ke RSUZA, langsung tanganku ditusuk diambil darah untuk cek di laboratorium, HB-ku 3 kata kakak perawat di rumah sakit. Ayah dan mamak tidak mengerti mengenai penyakitku dan aku ditransfusi. Sepanjang transfusi aku menangis terus… Antara sakit dan takut.
Pulang dari rumah sakit keadaanku membaik tapi mamak seperti trauma karena aku ditusuk dan akhirnya aku gak dibawa lagi. Keadaanku kembali seperti semula, demam berulang, panas tinggi dan aku mulai lemas.
Ayahku mulai sakit-sakitan, sudah tidak sanggup berkebun atau jak u glee dan sempat dirawat juga di rumah sakit dan akhirnya meninggal pada tanggal 24 Oktober 2009, 2 minggu setelah ulangtahunku yang ke 4. Ayah meninggalkan kami ber 3 dengan mamak. Kakak-kakakku masih kecil dan kami perempuan semua.
Aku belum mengerti, begitu juga suatu hari pada tanggal 22 Maret 2010 lahirlah adikku yang diberi nama Aura Azilla, yang kata nenek sudah yatim dari kandungan.
Adikku Aura juga menunjukkan gejala yang sama dengan ku, kami dibawa “rajah” kesana kemari, aku paing gak suka kalau disembur karena dingin dan aku tetap lemas. Muka pucar sekali dan aku mulai tidak sanggup jalan. Usia Aura bertambah dan akhirnya mamak minta rujukan puskesmas dan kami dibawa ke rumah sakit di Banda Aceh.

Kembali ke RSUZA

Aura kecil dengan hb 4 dan aku hb 2…
Transfusi pertama buat Aura dan yang ke 2 buat aku, kami menangis bersama. Ruang Serune waktu itu rebut sekali dengan tangisan kami, mamak menenangkan Aura dan aku sama kak Irma, kakak sepupu keponakan almarhum ayah kami.
Sejak saat itu kami tiap bulan dibawa ke rumah sakit, aku suka naik L300 tapi aku gak suka kalau ditusuk jarum dan harus melihat slang yang memerah berisikan darah. Aku sering menggigil demam atau sakit kepala yang berat. Pernah juga merasakan gatal diseluruh tubuh begitu darah masuk. Mamak suruh tahan karena darah AB+ yang merupakan golongan darahku susah dicari. Aku beruaha untuk menahan walau akhirnya aku menangis keras2 dan acapkali transfusi dihentikan dan kami harus menginap lama di rumah sakit.

Tak ada uang, tak ke rumah sakit..

Terkadang berbulan-bulan kami gak dibawa walau sudah lemas sekali, karena gak ada duit kata mamak. Mamak itu kerjanya memetik cabe orang di kebun-kebun, kami gak boleh ikut walaupun sering kami merengek minta ikut apalagi Aura. Kami ditinggal sama kakak yang usianya gak jauh beda atau dititip di nenek yang rumahnya dekat rumah kami, oiya…rumah kami dibikin sama orang kampung, walau kecil tapi sudah tidak bocor lagi.
“Jauh di hutan” begitu selalu kata mamak asal kami memaksa ikut.
Mamak pulang kadang bawa kacang tanah, kami rebus dan makan bersama.
Dari upahan petik cabe harian yang per kilo nya Rp 3.000 mamak kumpulin uang dan bisa bawa kami ke rumah sakit untuk transfusi, mamak selalu minta kami berjanji gak boleh minta jajan kalau di rumah sakit. Aku iyakan aja walau sampai di rumah sakit tetap minta, terkadang dibeli tapi lebih banyak mamak diam aja walau aku dan Aura menangis.
Sekarang sudah hampir 6 tahun kami ber 2 transfusi, aku tetap takut jarum dan aku selalu nangis saat sakit kepala siap transfusi. Begitu juga dengan Aura.
Aku Rahmawati dengan golongan darah AB+, penyandang thalassemia…

Comments 0

Your email address will not be published. Required fields are marked *

log in

reset password

Back to
log in
css.php